Tim Gabungan Evakuasi dan Identifikasi 15 Korban Tewas Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur

Petugas mengevakuasi korban dari gerbong KRL sejak dini hari
Kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam menewaskan 15 orang dan melukai puluhan penumpang. Sejak Selasa (28/4/2026) dini hari, tim gabungan langsung mengevakuasi korban dari rangkaian kereta rel listrik (KRL) yang rusak parah setelah bertabrakan dengan kereta di depannya.
Petugas mengangkat satu per satu korban dari dalam gerbong yang ringsek. Selanjutnya, mereka memasukkan jenazah ke dalam kantong khusus sebelum mengirimkannya ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. Proses ini berlangsung intensif hingga pagi hari, dengan fokus utama memastikan tidak ada korban yang tertinggal di lokasi kejadian.
Rumah Sakit Polri mengidentifikasi korban dengan data keluarga
Setelah evakuasi selesai sekitar pukul 08.00 WIB, petugas medis membawa seluruh korban ke sejumlah rumah sakit terdekat. Dari total korban tewas, lima jenazah langsung diidentifikasi oleh keluarga di rumah sakit sekitar lokasi. Sementara itu, sepuluh jenazah lainnya dibawa ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi lanjutan.
Pihak rumah sakit kemudian membuka posko crisis center guna memfasilitasi keluarga yang mencari anggota keluarganya. Keluarga datang membawa berbagai data pendukung, seperti foto, rekam sidik jari, hingga dokumen pribadi untuk membantu proses identifikasi. Hingga Selasa sore, tim berhasil mengidentifikasi sepuluh korban yang seluruhnya merupakan penumpang perempuan.
Tim forensik menghadapi kendala dalam proses identifikasi awal
Kepala Rumah Sakit Polri, Brigjen Prima Heru, menjelaskan bahwa pihaknya menerima jenazah pertama sekitar pukul 03.00 WIB. Setelah itu, kantong jenazah terus berdatangan hingga siang hari. Namun, tim forensik menghadapi sejumlah kendala saat melakukan identifikasi menggunakan sistem biometrik.
Beberapa jenazah tidak langsung terdeteksi dalam sistem MAMBIS sehingga petugas harus mengandalkan data antemortem dari keluarga. Selain itu, kondisi korban yang mengalami kerusakan pada bagian tubuh tertentu juga memperumit proses identifikasi.
Meskipun demikian, tim terus bekerja secara bertahap dengan menggabungkan data medis dan informasi keluarga. Mereka memastikan setiap korban dapat teridentifikasi dengan akurat sebelum diserahkan kepada pihak keluarga.
Proses identifikasi terus berlanjut hingga seluruh korban terdata
Tim gabungan terus melanjutkan proses identifikasi hingga seluruh korban terdata dengan jelas. Sementara itu, aparat kepolisian dan petugas terkait tetap berkoordinasi untuk memastikan seluruh tahapan berjalan lancar.
Di sisi lain, keluarga korban terus berdatangan ke rumah sakit untuk memastikan identitas anggota keluarga mereka. Proses ini menjadi bagian penting dalam penanganan pascakecelakaan, sekaligus memberikan kepastian bagi keluarga yang menunggu kabar.
