Kecelakaan beruntun menjadi salah satu insiden lalu lintas yang sangat mengancam keselamatan pengguna jalan tol. Pendiri Jakarta Defensive Driving Consulting Jusri Pulubuhu menegaskan bahwa kelalaian pengemudi atau faktor manusia mendominasi penyebab utama tabrakan beruntun. Perbedaan tingkat kecepatan antar kendaraan di jalan raya menciptakan situasi berbahaya yang memicu benturan berantai. Pengemudi yang gagal merespons perubahan kecepatan kendaraan di depannya sering kali memicu insiden fatal ini.
Ketidaksiapan pengemudi dalam mengantisipasi keadaan darurat umumnya berawal dari kebiasaan buruk mengabaikan jarak aman. Ketika kendaraan di depan mengerem mendadak, pengemudi di belakangnya kekurangan ruang dan waktu untuk menghentikan laju kendaraan. Kondisi tersebut semakin memburuk saat pengemudi bertindak sebagai lane hogger yang mengemudikan kendaraan secara lambat di lajur cepat. Tindakan ini merusak ritme lalu lintas dan memicu pengendara lain melakukan manuver berbahaya.
Kelalaian dan Kerusakan Lampu Kendaraan Memperburuk Risiko Kecelakaan
Pengemudi yang memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi di bahu jalan tol juga memperbesar potensi tabrakan fatal. Bahu jalan sebenarnya berfungsi khusus untuk kendaraan yang berada dalam kondisi darurat. Manuver mendadak seperti berpindah lajur tanpa menyalakan lampu sein atau tanpa memantau kaca spion kerap memicu benturan hebat secara tiba-tiba.
Penggunaan telepon seluler saat mengemudi turut mengalihkan perhatian dan memperlambat refleks pengemudi saat menekan pedal rem. Rasa kantuk yang menyerang walau hanya sepersekian detik dapat membuat kendaraan melenceng dari lajur atau melambat secara mendadak. Selain kesalahan pengemudi, kerusakan teknis seperti lampu rem yang mati membuat pengendara di belakang tidak menerima isyarat pengereman. Marketing Division Head Auto2000 Nur Imansyah Tara mengimbau para pemilik kendaraan agar mematuhi aturan lalu lintas serta rutin melakukan servis berkala demi mencegah tabrakan beruntun.
