PT KAI Daop 2 Bandung memasang palang pintu elektronik di perlintasan sebidang kereta api Kampung Sumur Bor, Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat. Langkah ini bertujuan untuk meminimalkan risiko kecelakaan lalu lintas di titik rawan tersebut. Lokasi perlintasan bernomor JPL 146 di petak Jalan Padalarang-Cimahi KM 142+696 ini memiliki tingkat mobilitas kendaraan darat yang sangat tinggi.
Relawan lokal selama ini menjaga lokasi tersebut dengan mengandalkan palang pintu manual seadanya. Padahal, frekuensi perjalanan kereta api di rute Padalarang-Cimahi tergolong sangat padat karena menampung pergerakan KA Feeder, kereta api lokal, hingga kereta api jarak jauh. Kondisi ini meningkatkan potensi bahaya bagi para pengguna jalan yang melintas setiap hari.
Pembangunan Pos Penjagaan Mempercepat Perubahan Status Pelintasan Resmi
Manajer Humasda PT KAI Daop 2 Bandung Kuswardojo menjelaskan bahwa pengerjaan proyek sudah berjalan sebelum insiden kendaraan nyaris tertemper kereta api terjadi. Pihaknya merancang pembangunan fisik pos perlintasan sebidang (PJL) bersamaan dengan instalasi sistem palang pintu otomatis. Langkah cepat ini menandai proses peralihan status pelintasan Sumur Bor menjadi perlintasan sebidang resmi.
Perubahan status operasional perlintasan membutuhkan pemenuhan berbagai syarat keselamatan secara menyeluruh. PT KAI mengerahkan tim untuk membangun fasilitas fisik dasar sekaligus membuka rekrutmen petugas penjaga perlintasan baru. Selanjutnya, Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan akan menggelar sertifikasi resmi bagi seluruh petugas yang lolos seleksi.
Tingkat Kerawanan Kecelakaan Mendorong Peningkatan Fasilitas Keselamatan
Kuswardojo menegaskan bahwa pemasangan palang pintu otomatis menjadi kebutuhan mendesak untuk menekan angka kecelakaan di jalur Bandung-Padalarang. Kepadatan arus lalu lintas jalan raya yang berpadu dengan tingginya frekuensi jadwal perjalanan kereta api menciptakan risiko bahaya yang tinggi. Peningkatan sarana pengamanan ini menjadi benteng utama dalam mencegah terjadinya kecelakaan fatal di masa depan.
Kerawanan di pelintasan Sumur Bor telah memicu berbagai insiden berbahaya pada masa lalu. Sebuah mobil yang mengangkut enam orang penumpang pernah tertemper kereta api Feeder hingga terseret cukup jauh pada tahun 2023. Peristiwa kelam tersebut memperkuat komitmen PT KAI Daop 2 Bandung untuk segera merampungkan modernisasi sistem keselamatan di lokasi tersebut.
